Jakarta-Humas MA: “Siapa tamunya lek!”
“Biasalah Bu, ada orang yang ingin menyuap Dimas.”
 “Kamu harus kuat ya Lek. Ingat pesan Ibu, jangan pernah kamu makan harta orang lain dengan cara yang bathil!”
“Enggeh Bu, Dimas akan selalu ingat pesan Ibu.”
“Sesulit apapun kondisi kamu, jangan sekali-kali mengambil sesuatu yang bukan menajdi hak kamu.”

Begitu dialog Ibu Sunarti kepada Dimas setelah anaknya tersebut menemui seorang tamu yang ingin “negoasiasi” hukuman saudaranya yang terjerat kasus narkoba.

Dimas adalah seorang pria yang menjabat sebagai hakim di Pengadilan Negeri Garut. Sebagai wakil Tuhan ia sangat menjaga integritasnya sebagai hakim, sangat memegang teguh prinsipnya dalam menjalankan tugas. Namun, di tengah perjalanannya sebagai hakim, ia sempat goyah akan integritasnya, karena ia tidak punya biaya untuk operasi ibunya yang sedang sakit tumor otak stadium tiga.

Keadaan semakin membuat ia ingin meninggalkan jabatan sebagai hakim karena ibunya, satu-satunya orang tua yang ia miliki wafat. Dimas merasa sangat bersalah dengan keadaan yang membuat ia tidak memiliki cukup uang untuk biaya operasi sang Ibu.
Cerita Dimas (diperankan oleh Dony Alamsyah) dan ibunya (diperankan oleh Vonny Anggraeni) bisa disaksikan dalam film berjudul Pesan Bermakna. Film yang diambil dari Catatan di balik Toga Merah karya D.Y. Witanto, Hakim Yustisial pada Ketua Mahkamah Agung itu ditayangkan pertama kali pada hari jadi Mahkamah Agung yang ke-76, Film ini merupakan kado istimewa bagi Insan peradilan di seluruh Indoensia. Film ini juga menjadi media untuk menyampaikan pentingnya sebuah integritas bagi seorang hakim dengan cara yang dapat diterima semua kalangan.

Film hasil kerja sama Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung dengan Emtek Digital ini merupakan dedikasi untuk seluruh insan peradilan yang telah mengabdikan hidupnya bagi tegaknya hukum dan keadilan.

“Film ini sangat bagus. Semoga para hakim di seluruh Indonesia bisa menjadikan film ini sebagai insiprasi dalam bertugas, tetap menjaga kode etik hakim, apapun yang terjadi,” kata Prof. Dr. Syarifuddin selesai menonton bersama film ini.

https://www.mahkamahagung.go.id/cms/media/9146

ANUGERAH MAHKAMAH AGUNG

Setelah upacara bendera selesai dilaksanakan, Pimpinan Mahkamah Agung melanjutkan rangkaian perayaan ulang tahun MA yang ke-76. Di antaranya yaitu, penyerahan Anugerah Mahkamah Agung 2021 bagi pengadilan-pengadilan di seluruh Indonesia yang telah mendukung program kerja Mahkamah Agung, memberikan doa untuk insan peradilan yang telah wafat selama pandemi covid 19, dan menonton bersama film Pesan Bermakna. Semua rangkaian acara ini dilaksanakan di Museum Mahkamah Agung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Prof. Syarifuddin menyampaikan dalam amanatnya bahwa pemberian anugerah ini adalah bentuk apresiasi Mahkamah Agung kepada pihak internal dan pihak eksternal, yaitu advokat sebagai pengguna layanan di pengadilan yang telah berartisipasi dalam menyukseskan kebijakan Mahkamah Agung dan program prioritas pemerintah terkait peningkatan kemudahan berusaha di Indonesia.

Pemberian anugerah ini diharapkan dapat memacu semangat bagi aparatur dan satuan kerja pengadilan serta para advokat pengguna layanan di pengadilan untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerja dalam pelayanan publik. Program pemberian anugerah ini akan dilaksanan secara kontinyu setiap tahun dengan kriteria-kriteria yang  akan  terus  diperluas,  termasuk  kemungkinan ke depannya akan dibuka kategori pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata. Untuk itu saya berpesan, kepada para ketua pengadilan tingkat pertama, khususnya di lingkungan peradilan umum untuk senantiasa memperhatikan aspek pelaksanaan dan pelaporan eksekusi supaya dapat memenuhi kriteria yang ditentukan dalam proses penilaian oleh tim yang melakukan survei. (azh/RS)

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
Scroll Up